Maulana hadiri wisuda tahfidz 30 juz,Teguhkan komitmen wujudkan kota Jambi bahagia yang agamis.

Sabtu, 26 September 2026

Penulis: Bowo Prayitno | Editor: Eko Oktavianus

cover
jambikota.go.id | Pemerintah Kota Jambi

Jambi - Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi terus memperkuat komitmen dalam mendukung tumbuh dan berkembangnya pendidikan keagamaan sebagai bagian penting dalam mewujudkan masyarakat yang berakhlak, harmonis dan bahagia.

Komitmen tersebut kembali ditunjukkan Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., saat menghadiri sekaligus memberikan dukungan pada Wisuda Tahfizh Qur’an 30 Juz Bil Ghaib ke-V dan Milad ke-XII Pondok Pesantren Daarul Huffaazh Al-Islami Jambi, yang berlangsung di Pondok Pesantren Daarul Huffaazh Al-Islami, Jalan Sunan Gunung Djati, Perum BPKP, Kelurahan Kenali Asam, Kecamatan Kota Baru, Sabtu (26/09/2026).

Mengusung tema “Bersama Al-Qur’an Membentuk Generasi Masa Depan”, kegiatan tersebut menjadi momentum penuh kebahagiaan bagi para santri, orang tua, keluarga, pengasuh pondok pesantren, serta masyarakat. Sebanyak 43 santri dan santriwati diwisuda setelah berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz bil ghaib, terdiri dari 13 wisudawan laki-laki dan 30 wisudawati perempuan.

Dalam sambutannya, Wali Kota Jambi Maulana menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh santri yang telah berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, sekaligus kepada para orang tua yang telah mendampingi dan mendukung perjuangan anak-anak mereka.

“Atas nama Pemerintah Kota Jambi, saya mengucapkan selamat kepada ananda yang sudah berhasil menghatamkan hafalannya, dan kepada ayah, bunda serta orang tua. Kita semua tentu bersyukur dan berbahagia karena di Kota Jambi banyak tempat-tempat pendidikan keagamaan,” ujar Wali Kota.

Menurutnya, keberadaan pondok pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kecintaan terhadap Al-Qur’an serta keteguhan dalam menjalankan nilai-nilai agama.

Wali Kota menegaskan, pembangunan Kota Jambi tidak semata-mata diarahkan pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga pada terwujudnya kebahagiaan masyarakat secara utuh, baik secara lahir maupun batin.

Hal tersebut sejalan dengan visi Kota Jambi Bahagia, yang salah satunya menempatkan nilai agamis sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat.

“Ini sejalan dengan Kota Jambi Bahagia, komponen agamis. Karena kebahagiaan itu bukan hanya secara fisik, tetapi juga rohani. Oleh karena itu, kehadiran saya bersama camat dan jajaran merupakan bentuk dukungan Pemerintah Kota Jambi terhadap seluruh proses pendidikan keagamaan bagi anak-anak Jambi,” jelasnya.

Ia mengatakan, Pemerintah Kota Jambi akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan dan proses pendidikan keagamaan, termasuk melalui dukungan terhadap guru-guru majelis taklim, fasilitas serta berbagai bentuk dukungan lainnya sesuai dengan kewenangan pemerintah daerah.

“Kami sangat support. Baik itu memberikan insentif bagi guru-guru majelis taklim, memberikan fasilitas, dukungan dan lain-lain. Mudah-mudahan Allah memberkahi dan memberikan kesuksesan untuk Pondok Pesantren Daarul Huffaazh,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Maulana juga menyampaikan pesan mendalam kepada para wisudawan dan wisudawati agar keberhasilan menghafal 30 juz tidak dipandang sebagai akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga, mengamalkan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

Menurutnya, para penghafal Al-Qur’an merupakan sumber daya manusia yang luar biasa karena tidak hanya memiliki kemampuan dalam menghafal Kalam Ilahi, tetapi diharapkan tumbuh sebagai generasi yang berakhlak dan mencintai Al-Qur’an.

“Ini sumber daya manusia yang luar biasa, berakhlak, cinta Al-Qur’an dan menjaga Al-Qur’an. Al-Qur’an itu mulia dan memuliakan siapa pun yang bersentuhan dengan Al-Qur’an,” tuturnya.

Wali Kota juga mengingatkan bahwa perjuangan untuk Al-Qur’an merupakan amal yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus mencintai, mempelajari, membaca dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa keberadaan kegiatan-kegiatan keagamaan yang diikuti masyarakat merupakan bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan keberkahan dan ketenteraman di tengah kehidupan masyarakat.

“Insya Allah rahmat Allah turun, sehingga kebahagiaan ini terwujud. Kebahagiaan tidak hanya fisik, tetapi juga rohani,” katanya.

Wali Kota Maulana juga menyampaikan bahwa dirinya secara khusus merasa perlu hadir dalam kegiatan tersebut karena keberadaan Pondok Pesantren Daarul Huffaazh Al-Islami sangat relevan dengan arah pembangunan Kota Jambi Bahagia, khususnya dalam memperkuat nilai agamis.

image-content
jambikota.go.id | Pemerintah Kota Jambi

Ia menyebut, memiliki anak yang mampu menghafal Al-Qur’an merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Karena itu, keberhasilan para santri hari ini diharapkan menjadi inspirasi bagi keluarga lainnya untuk memberikan pendidikan agama yang kuat kepada generasi penerus.

“Kebahagiaan terbesar itu bisa memiliki anak-anak yang memiliki ilmu agama dan penghafal Al-Qur’an,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya bersama keluarga turut memberikan perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, anak-anak saya juga penghafal Al-Qur’an,” ungkapnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Huffaazh Al-Islami Jambi, Ust. Kiyai H. Erman Ripai, Al-Hafiz, S.Pd.I., dalam kesempatan tersebut menyampaikan perjalanan panjang lembaga dalam membina para penghafal Al-Qur’an.

Memasuki usia ke-12 tahun, Pondok Pesantren Daarul Huffaazh Al-Islami telah mencetak 153 hafiz yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Ia menjelaskan, proses menghafal Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang dapat ditempuh secara instan. Dibutuhkan kesabaran, kedisiplinan, ketekunan dan komitmen yang kuat, baik dari santri, pengasuh maupun orang tua.

Dalam sistem pembinaan di pondok pesantren tersebut, setiap santri tidak serta-merta diperbolehkan melanjutkan hafalan ke juz berikutnya sebelum hafalan sebelumnya benar-benar dikuasai.

“Ketika mereka ingin naik ke juz berikutnya, hafalan sebelumnya harus dibaca dan dikuasai terlebih dahulu. Kalau belum selesai dan belum kuat, kami tidak akan menaikkan ke juz selanjutnya. Ini merupakan prinsip dalam proses pembinaan tahfiz,” jelas Ust. Kiyai H. Erman Ripai, Al-Hafiz, S.Pd.I.

Menurutnya, ketatnya proses tersebut menyebabkan waktu yang dibutuhkan setiap santri untuk menyelesaikan hafalan berbeda-beda. Ada yang membutuhkan waktu empat tahun, lima tahun, bahkan enam tahun.

“Paling cepat ada yang tiga tahun, dan itu sudah sangat cepat. Karena dari juz pertama sampai juz berikutnya ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Setiap hafalan harus benar-benar dibaca, diulang dan dinyatakan lulus sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya,” tuturnya.

Ia menegaskan, tujuan utama pembinaan bukan sekadar mengejar kecepatan dalam menyelesaikan hafalan, melainkan memastikan hafalan tersebut benar-benar kuat dan mampu dijaga sepanjang kehidupan.

Pondok Pesantren Daarul Huffaazh Al-Islami Jambi mulai berdiri dan menjalankan proses pembinaan pada 15 September 2014. Memasuki usia 12 tahun, lembaga tersebut terus berkomitmen menjaga amanah dalam membina generasi Qur’ani di Kota Jambi.

“Alhamdulillah, hari ini tepat 12 tahun perjalanan kami. Mohon doa dari para alim ulama, para penyelenggara, masyarakat dan seluruh pihak agar ke depan kami tetap istiqamah dalam menjalankan amanah ini,” ungkapnya.

Ust. Kiyai H. Erman Ripai, Al-Hafiz, S.Pd.I. juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat sekitar dan seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan dan pembinaan para santri.

Menurutnya, menjadi hafiz bukanlah akhir dari perjalanan. Setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, seorang hafiz masih memiliki tanggung jawab untuk menjaga hafalannya, mengamalkan isi Al-Qur’an serta menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan dan mampu menghadirkan cahaya Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Wali Kota Maulana menambahkan, keberadaan para ulama, pondok pesantren, majelis taklim dan berbagai komunitas keagamaan merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat Kota Jambi.

Menurutnya, kegiatan bersholawat, pengajian, tahfizh Al-Qur’an serta berbagai aktivitas keagamaan lainnya merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun Kota Jambi yang tidak hanya maju secara pembangunan, tetapi juga memiliki kehidupan masyarakat yang religius, harmonis dan penuh keberkahan.

image-content
jambikota.go.id | Pemerintah Kota Jambi

“Insya Allah dengan kita terus menghidupkan kegiatan-kegiatan Al-Qur’an, bersholawat dan kegiatan keagamaan, rahmat Allah turun dan kebahagiaan masyarakat Kota Jambi dapat kita wujudkan bersama,” pungkas Maulana.

Momentum tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun generasi masa depan yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia dan memiliki fondasi keagamaan yang kuat, sekaligus memperkuat cita-cita Kota Jambi Bahagia sebagai kota perdagangan dan jasa yang bersih, aman, harmonis, agamis, inovatif dan sejahtera.