Wawako Diza Dorong Mahasiswa Baru UNBARI Jadi Penggerak Perubahan dan Ekonomi Kreatif Kota Jambi
Selasa, 08 September 2026
Penulis: Bowo Prayitno | Editor: Eko Oktavianus
Jambi – Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., mendorong mahasiswa baru Universitas Batanghari (UNBARI) untuk tidak hanya menjadi insan akademis, tetapi juga tampil sebagai penggerak perubahan, pencipta lapangan kerja, dan pelaku ekonomi kreatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Diza saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNBARI bertajuk “Unbari Muda 2026”, yang berlangsung di Aula Drs. H. Abdurrahman Sayoeti, Kampus Universitas Batanghari Jambi, Selasa (8/9/2026).
Mengusung tema “Pertemuan Dalam Kebenaran, Penyatuan Dalam Semangat Perubahan”, kegiatan tersebut diikuti 191 mahasiswa baru dari lima fakultas, yakni Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Teknik, serta Fakultas Pertanian.
Dalam kesempatan itu, Wawako Diza menyampaikan materi bertajuk “Menata Kota dari Ruang Imajinasi dan Realisme Anak Muda”. Materi tersebut mengajak mahasiswa melihat pembangunan kota dari perspektif yang lebih luas, tidak hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga dari kreativitas, inovasi, kebutuhan masyarakat, serta potensi generasi muda.
Diza menilai, generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah perkembangan Kota Jambi. Dengan jumlah penduduk sekitar 634 ribu jiwa yang tersebar di 11 kecamatan dan 68 kelurahan, potensi generasi muda merupakan modal penting dalam membangun kota yang adaptif terhadap perubahan zaman.
“Jangan anti diskusi dengan pemerintah. Kita harus berdiskusi, kita butuh diskusi dalam membuat program dan suatu kebijakan,” ujar Diza.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam merancang dan menjalankan pembangunan. Perspektif generasi muda diperlukan agar kebijakan yang dihasilkan semakin relevan dengan perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan kebutuhan masyarakat.
Dalam paparannya, Diza memperkenalkan pendekatan Community Based Development (CBD) sebagai salah satu perspektif pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pembangunan.
Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas dapat membuka ruang yang lebih luas bagi anak muda, perajin batik, pelaku seni, pelaku UMKM, maupun berbagai komunitas untuk menjadi pencipta sekaligus bagian dari penguatan identitas budaya dan ekonomi kreatif Kota Jambi.
“Anak muda jangan hanya menjadi penonton. Anak muda harus menjadi bagian dari proses menciptakan program dan menjadi bagian dari perubahan kota,” tegasnya.
Diza kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan berbagai program Pemerintah Kota Jambi, salah satunya Program Kampung Bahagia, yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun dan mengembangkan lingkungan tempat tinggalnya.
Semangat pembangunan berbasis masyarakat tersebut, lanjutnya, juga perlu diperluas melalui program kepemudaan yang menyentuh aspek permodalan, kewirausahaan, dunia kerja, kreativitas, dan ekonomi kreatif.
Untuk membuat materi lebih interaktif, Diza memberikan tantangan kepada mahasiswa baru UNBARI untuk menyusun gagasan usaha yang berangkat dari persoalan dan kebutuhan masyarakat.
Mahasiswa dibagi ke dalam sejumlah kelompok yang merepresentasikan bidang keilmuan dari fakultas yang ada. Mereka diminta menyusun dan mempresentasikan ide usaha seandainya memperoleh dukungan modal.
“Kalau kalian dimodali, usaha apa yang akan kalian munculkan? Apa kebutuhan sosial yang ingin kalian jawab? Bagaimana teknisnya dan bagaimana kebermanfaatannya untuk warga Kota Jambi? Kemudian bagaimana cara kalian mengelolanya?” tantang Diza.
Mahasiswa diminta tidak hanya memikirkan aspek keuntungan, tetapi juga menjelaskan persoalan sosial yang hendak dijawab, teknis pelaksanaan, manfaat bagi masyarakat, hingga keberlanjutan usaha.
Gagasan terbaik akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebagai bentuk apresiasi sekaligus pemantik semangat kewirausahaan bagi mahasiswa baru.
Diza berharap tantangan tersebut tidak berhenti sebagai bagian dari kegiatan PKKMB, melainkan menjadi awal bagi mahasiswa untuk membangun pola pikir kreatif, inovatif, mandiri, serta berorientasi pada pemecahan masalah.
Diza juga menekankan pentingnya menghadirkan youth-focused programs, yakni program pembangunan yang secara khusus memberikan ruang bagi kebutuhan dan potensi generasi muda.
Menurutnya, program kepemudaan harus mencakup peningkatan keterampilan, akses permodalan, kewirausahaan, kesempatan kerja, ekonomi kreatif, pengembangan kapasitas, hingga perluasan jejaring.
Namun, hal yang tidak kalah penting adalah memastikan anak muda dilibatkan sejak proses perumusan program.
“Jangan hanya membuat program untuk anak muda, tetapi anak muda juga harus dilibatkan dalam membuat program,” jelasnya.
Menurut Diza, keterlibatan tersebut akan membuat kebijakan pemerintah tidak berjalan satu arah. Anak muda perlu diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan, kritik, kebutuhan, serta solusi berdasarkan pengalaman dan kondisi yang mereka hadapi.
Dalam kesempatan tersebut, Diza yang juga dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (DPW Gekrafs) Jambi periode 2026–2029 turut memperkenalkan rencana program Beyond The Classroom (BTC).
Ia mengatakan, Gekrafs Provinsi Jambi berencana melaksanakan BTC di sejumlah perguruan tinggi di Jambi pada Oktober 2026, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) dan Universitas Jambi (UNJA). Ke depan, ia berharap UNBARI juga dapat menjadi bagian dari program tersebut.
“Karena saya baru dilantik bulan lalu, saya membuat kegiatan namanya BTC atau Beyond the Classroom. Untuk tahun ini, kami Gekrafs Provinsi membuatnya di UIN dan UNJA. Mudah-mudahan tahun 2027 bisa membuat kegiatan di UNBARI,” ungkapnya.
Diza menjelaskan, program tersebut akan mengangkat sejumlah bidang, antara lain hukum, ekonomi, serta seni musik dan seni rupa. Pelaksanaannya akan dikemas melalui diskusi dan interaksi langsung bersama mahasiswa.
Gekrafs juga akan menghadirkan tokoh dan praktisi untuk membahas tantangan sekaligus peluang yang dihadapi mahasiswa ketika memasuki dunia industri kreatif.
“Pembahasannya adalah bagaimana kita bertahan di industri dari fakultas yang kita masuki. Mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi dan semangat baru bagi mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Diza, program tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara dunia akademik dan industri, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis di ruang kelas, tetapi juga memahami dinamika dunia kerja dan industri.
Diza menilai mahasiswa memiliki modal besar untuk menjadi bagian dari pembangunan ekonomi daerah. Kampus, menurutnya, bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membangun jejaring, mengasah kemampuan, berdiskusi, dan melahirkan gagasan yang dapat diimplementasikan.
Dengan latar belakang akademik dan pengalaman di dunia usaha, Diza mendorong mahasiswa baru UNBARI berani mengeksplorasi potensi diri sekaligus melihat berbagai persoalan di sekitarnya sebagai peluang untuk menciptakan solusi.
Diza merupakan lulusan Sarjana Ekonomi (S.E.) Jurusan Manajemen dari Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan melanjutkan pendidikan Master of Arts (M.A.) Jurusan Marketing Management dari Middlesex University, London, Inggris.
Sebelum berkecimpung di pemerintahan, Diza juga aktif di dunia usaha dan organisasi kepemudaan. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Jambi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal dalam mendorong pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan generasi muda dalam membangun daerah.
Melalui kegiatan tersebut, Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja, penggerak ekonomi kreatif, inovator, dan mitra strategis pemerintah dalam membangun Kota Jambi.
Semangat “Pertemuan Dalam Kebenaran, Penyatuan Dalam Semangat Perubahan” pun diharapkan tidak berhenti sebagai tema PKKMB, tetapi menjadi semangat bersama bahwa perubahan membutuhkan keberanian bertukar gagasan, keterbukaan berdiskusi, kreativitas, serta kolaborasi antara generasi muda, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Dengan semangat tersebut, generasi muda diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam mewujudkan Kota Jambi yang semakin maju, inovatif, inklusif, dan BAHAGIA.